Cukup banyak faktor yang menyebabkan mengapa mahasiswa salah dalam memilih jurusan dan bisa berakibat fatal. Bicara soal pendidikan, apapun pilihannya akan sangat menentukan bagi masa depan karena waktu tidak bisa diputar kembali.
Hal pertama yang harus jadi pertimbangan saat memilih jurusan adalah minat atau bakat pribadi sebagai pondasi dari motivasi. Baru tahap berikutnya berkaitan dengan support system, dukungan orang-orang terdekat dan beberapa faktor lainnya.
Jangan sampai di tengah jalan baru menyadari jurusan pilihan ternyata penuh tanjakan juga jalan berlubang dan berujung di tempat yang tak diinginkan. Tidak sedikit yang awalnya sangat antusias, justru merasa salah arah setelah beberapa semester.
Faktor Penyebab Kenapa Mahasiswa Salah Pilih Jurusan
Fenomena ini memang bukanlah hal yang baru. Alasannya itu memang cukuplah beragam, mulai dari kurangnya pemahaman sebelum memilih, ekspektasi yang tidak sesuai, sampai dengan kekhawatiran soal masa depan karier.
Seperti perjalanan panjang, jangan memilih jurusan tanpa peta atau kompas yang tepat karena bisa membuat tersesat. Namun, dengan tahu dan paham akar masalahnya bisa menjadi langkah awal untuk menemukan arah baru serta mengubah cara pandang.
1. Kurangnya pemahaman mahasiswa ketika memilih jurusan
Satu dari sekian banyak alasan mahasiswa salah memilih jurusan adalah minimnya riset sebelum menentukan pilihan. Kadang hanya mengandalkan informasi singkat brosur kampus, cerita sepintas dari kakak kelas, atau sekadar berdasarkan nama jurusan.
Padahal, setiap jurusan punya karakter, tingkat kesulitan sendiri dan ritme belajar yang berbeda dengan jurusan lainnya, atau juga dengan jurusan di kampus lainnya.
Misalnya, jurusan Ilmu Komunikasi tidak hanya belajar bicara di depan kamera, tapi juga statistik, riset media, sampai dengan teori komunikasi massa. Tanpa pemahaman yang jelas dari semua ini sejak awal, jurusan terasa membosankan juga berat menjalaninya.
2. Ekspektasi vs realita ternyata berbeda jauh

Photo by Rahul Jain
Bayangan awal tentang jurusan sering kali terlalu indah. Ada yang masuk jurusan seni rupa membayangkan hari-hari penuh melukis. Kenyataan yang terjadi, sebagian besar waktu justru habis untuk bisa mempelajari sejarah seni dan teori warna.
Begitu juga dengan jurusan Teknik, yang di mata calon mahasiswa mungkin terlihat penuh eksperimen yang seru dan memberi tantangan, namun yang terjadi dalam realitanya penuh dengan tugas laporan dan perhitungan rumit.
Ketidaksesuaian antara ekspektasi dan pengalaman nyata inilah yang membuat sebagian mahasiswa kehilangan semangat belajar. Namun akar permasalahan bukan jurusan, namun ada pada diri sendiri mahasiswa tersebut.
Tidak hanya itu, materi kuliah yang terlalu sulit atau tidak sesuai minat pribadi bisa membuat jurusan terasa seperti beban, bukan tantangan yang menyenangkan. Jadi jelas kalau semuanya itu haruslah dipahami dengan baik.
Baca juga: Mengatasi Kesepian Saat Sendiri Kuliah di Luar Negeri
3. Metode pengajaran yang bisa jadi sering membuat bosan
Metode mengajar dosen sangat memengaruhi kenyamanan belajar. Dan itu akan berbeda-beda untuk setiap dosennya. Beberapa mahasiswa mengeluhkan dosen yang terlalu fokus pada teori tanpa memberi contoh praktis atau relevansi di dunia kerja.
Kelas yang isinya dengan slide presentasi penuh teks, tanpa interaksi atau diskusi, ibarat perjalanan jauh tanpa pemandangan, sering membuat bosan di dalam kelas. Akibatnya apa? Mahasiswa pun akan cukup kesulitan bisa merasa terhubung dengan materinya.
4. Minimnya peluang karier yang jelas di dunia kerja
Cukup banyak mindset mahasiswa ketika selesai kuliah akan langsung bekerja di suatu perusahaan. Ternyata itu menjadi kekhawatiran soal masa depan yang kerap menjadi alasan kuat. Tidak semua jurusan punya jalur karier yang jelas atau mudah diakses.
Jurusan yang dulu banyak kebutuhannya, kini mulai tergeser oleh tren industri baru atau dengan adanya metode yang serba digital. Perubahan cepat di dunia kerja membuat beberapa lulusan harus beradaptasi ke bidang yang berbeda dari yang mereka pelajari.
Hal ini tentu saja akan menimbulkan pertanyaan di benak mahasiswa: “Untuk apa saya mempelajari semua ini, kalau nantinya tidak relevan dengan pekerjaan?”
Kondisi tadi tentu saja bisa membuat rasa cinta pada jurusan semakin pudar, terutama bagi mereka yang belum punya rencana cadangan. Jadi jangan sampai itu terjadi ya!
5. Atas dasar solidaritas, lalu ikut-ikutan teman
Faktor ini sering diremehkan oleh cukup banyak calon mahasiswa yang baru lulus dari SMA, padahal cukup berpengaruh. Tidak sedikit mahasiswa memilih jurusan hanya karena ingin tetap bersama teman dekatnya.
Wajar saja karena selama masa sekolah selalu bersama-sama. Lalu ketika memulai masa kuliah, mereka menyadari bahwa minat, bakat, dan kemampuan masing-masing itu akan berbeda.
Jalan terbaik bagi mahasiswa yang salah memilih jurusan adalah mempertimbangkan pindah jurusan demi keberlanjutan pendidikan. Meskipun harus berkorban waktu dan biaya yang mungkin tidak sedikit, namun itulah harga yang harus mereka bayar.
Featured image by Zoshua Colah